Jumat, 16 November 2012

SATU ABAD MUHAMMADIYAH - 18 NOPEMBER (1912-2012)



sumber : www.muhammadiyah.or.id



Persyarikatan Muhammadiyah  (Muhammadiyah) didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan dikampung Kuman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H/18 November 1912. Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.


Pada awalnya, Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha K.H Ahmad Dahlan dalam memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Tujuan utama Muhammadiyah adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini sering menyebabkan ajarin Islam bercampur baur dengan kebiasaan didaerah tertentu dengan alasan adaptasi. Gerakan Muhammadiyah bercirikan semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih maju dan terdidik. Menampikan ajaran Islam bukan sekedar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya.

Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabaran KH. Ahmad Dahlan, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.
Pada masa kepemimpinan Ahmad Dahlan (1912 – 1923), Pengaruh Muhammadiyah terbatas disekitar Yogya. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang Agam. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh ke seluruh Sumatera Barat dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak keseluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh Indonesia.

Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha. Selain itu peran dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan selanjutnya berganti nama menjadi Kweek School Muhammadiyah, sekarang dikenal dengan Madrasah Mu’Alimin khusus laki-laki, yang bertempat di Patangpuluhan Kecamatan Wirobrajan dan Mu’allimaat Muhammadiyah khususnya perempuan, di Suronatan Yogyakarta.

Bentuk Lambang Muhammadiah dan Artinya

Sumber : www.muhammadiyah.or.id
Lambang persyarikatan berbentuk matahari yang memancarkan  duabelas sinar yang mengarah ke segala penjuru dengan sinarnya yang putih bersih bercahaya. Di tengah-tengah matahari terdapat tulisan dengan huruf Arab : Muhammadiyah. Pada lingkaran yang mengelilingi tulisan huruf Arab berwujud kalimat syahadat tauhid : asyhadu anal ila,ha illa Allah (saya bersaksi bahwasannya tidak ada Tuhan kecuali Allah); di lingkaran sebelah atas dan pada lingkaran bagian bawah tertulis kalimat syahadat Rasul : wa asyhadu anna Muhammaddar Rasulullah (dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Seluruh Gambar matahari dengan atributnya berwarna putih dan terletak di atas warna dasar hijau daun.

Arti Lambang
·   Matahari merupakan titik pusat dalam tata surya dan merupakan sumber kekuatan semua makhluk hidup yang ada di bumi. Jika matahari menjadi kekuatan cikal bakal biologis, Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi sumber kekuatan spiritual dengan nilai-nilai Islam yang berintikan dua kalimat syahadat.
·  Duabelas sinar matahari yang memancar ke seluruh penjuru diibaratkan sebagai tekad dan semagat warga Muhammadiyah dalam memperjuangkan Islam, semangat yang pantang mundur dan pantang menyerah seperti kaum Hawari (sahabat nabi Isa yang berjumlah 12)
·  Warna Putih pada seluruh gambar matahari melambangkan kesucian dan keikhlasan
· Warna Hijau yang menjadi warna dasar melambangkan kedamaian dan dan kesejahteraan.

Selama satu abad Persyarikatan Muhammadiyah telah dipimpin oleh 14 Ketua Umum, yaitu : KH Ahmad Dahlan (1912 – 1923); KH Ibrahim (1923 – 1932); KH Hisyam (1932 – 1936); KH Mas Mansyur (1936 – 1942); Ki Bagoes Hadi Kusumo (1942 – 1953); Buya AR Sutan Mansur (1953 – 1959); HM Yunus Anis (1959 – 1962); KH Ahmad Badawi (1962 – 1968); KH Faqih Usman (1968 – 1971); KH AR Fahruddin (1971 – 1990); KHA Azhar Basyir (1990 – 1995); Amien Rais (1995 – 2000); Syafii Ma’arif (2000 – 2005); Din Syamsudin (2005 – Sekarang).

Top of Form
Bottom of Form
 Sumber  :
www. muhammadiyah.or.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar