Senin, 27 Juni 2011

ISRA MI'RAJ 2011 (Bagian 2)

III. Peristiwa Mi’raj (Naik ke Hadhratul-Qudus Menemui Allah):

Didatangkan Mi’raj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah S. A. W. dan Jibril naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).


Lalu Jibril a.s membawaku naik ke mi'raj pertama. Ketika Jibril a.s meminta agar dibukakan pintu, terdengar suara bertanya: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad.
Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutus? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutus.
Lalu dibukakan pintu kepada kami.

Ketika telah dibuka, kami naik ke langit dunia, tiba-tiba bertemu dengan orang yang duduk, sedang di kanan dan kirinya tampak sekumpulan orang, bila ia melihat ke kanan tertawa, tetapi bila melihat ke kiri menangis, maka ia menyambut: Marhaban (selamat datang) nabi yang saleh dan putra yang saleh.
Aku bertanya kepada Jibril: Siapakah itu? Jawabnya: itu Adam a.s., sedang sekumpulan orang yang di kanan kirinya adalah anak cucunya, yang di kanan ahli surga dan yang di kirinya ahli neraka, karena itu ia tertawa bila melihat ke kanan, dan menangis bila melihat ke kirinya.
Ketika aku bertemu dengan Nabi Adam a.s, beliau menyambutku serta mendoakan aku dengan kebaikan.

Seterusnya aku dibawa naik ke mi’raj kedua. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu.
Terengar suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril.
Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad.
Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutus? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutus.
Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Isa bin Mariam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
“Marhaban nabi yang saleh” Dan aku bertanya: Siapakah ini? Jawab Jibril: Itu Isa
Aku melihaat Isa bertubuh sedang, kulitnya putih kemerahan bagaikan orang yang baru keluar dari pemandian,


Aku dibawa lagi naik mi’raj ketiga. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu.
Terdengar suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril.
Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad.
Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutus? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutus.
Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Yusuf a.s ternyata dia telah dikaruniai kedudukan yang sangat tinggi. Dia menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
“Marhaban nabi yang saleh” Dan aku bertanya: Siapakah ini? Jawab Jibril: Itu Musa.

Aku dibawa lagi naik ke mi’raj keempat. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu.
Terdengar suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril.
Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad.
Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutus?’Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutus.
Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Idris a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Nabi Idris berkata: “Marhaban (Selamat datang) nabi yang saleh dan saudara yang saleh” Lalu aku tanya kepada Jibril: Siapakah ini? Jawabnya: Ini Idris.
Allah s.w.t berfirman: Dan kami telah mengangkat ke tempat yang tinggi derajatnya.

Aku dibawa lagi naik ke mi'raj kelima. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu.
Terdengar suara bertanya lagi: Siapakah engkau?  Dijawabnya: Jibril.
Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad.
Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutus?  Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutus.
Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Harun a.s dia menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. “Marhaban nabi yang saleh”
Dan aku bertanya: Siapakah ini? Jawab Jibril: Itu Harun.

Aku dibawa lagi naik ke mi'raj keenam. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu.
Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril.
Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad.
Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutus?Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutus.
Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Musa a.s dia menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
Nabi Musa menyambut : “Marhaban nabi yang saleh”
dan aku bertanya: Siapakah ini? Jawab Jibril: Itu Musa. Aku melihat Musa seorang yang coklat rupanya, tinggi dan keriting rambutnya, kurus, seperti orang dari suku Syanu’ah,

Aku dibawa lagi naik ke mi'raj ketujuh. Jibril a.s meminta supaya dibukakan.
Terdengar suara bertanya lagi: Siapakah engkau?  Dijawabnya: Jibril.
Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu?  Jibril a.s menjawab: Muhammad.
Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutus?  Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutus.
Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Begitu luasnya setiap hari dimasuki tujuh puluh ribu malaikat, yang setelah keluar mereka tidak kembali masuk.  Aku melihat bahwa aku sangat menyerupai Ibrahim.
Kepada Rasulullah S. A. W., Nabi Ibrahim A. S. bersabda,
‘Engkau akan berjumpa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga yaitu lLAH HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAh’
Mengikut riwayat lain, Nabi Irahim A. S. bersabda,
‘Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ialah lima kalimah, iaitu:
SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA lah ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR dan WA lah HAULA WA lah QUWWATA ILLA BILLAHIL- ‘ALIYYIL-’AZHIM.
Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sebatang pohon dalam surga’
Setelah melihat beberapa peristiwa lain yang ajaib. Rasulullah dan Jibrail masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersembahyang (Baitul-Makmur ini betul-betul di atas Baitullah di Mekah).
Aku dibawa lagi naik ke mi’raj kedelapan. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu Sidrat al-Muntahā.
Sidrat al-Muntahā (Arab: سدرة المنتهى‎ , Sidratul Muntaha) adalah sebuah pohon bidara yang menandai akhir dari langit/Surga ke tujuh, sebuah batas dimana makhluk tidak dapat melewatinya,
Dari Anas bin Malik, dari Malik bin Sha’sha’ah, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Diapun menyebutkan hadits Mi’raj, dan di dalamnya: “Kemudian aku dinaikkan ke Sidratul Muntaha”. Lalu Nabiyullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengisahkan: “Bahwasanya daunnya seperti telinga gajah dan bahwa buahnya seperti bejana batu”.
[Hadits telah dikeluarkan dalam ash-Shahihain dari hadits Ibnu Abi Arubah. Hadits riwayat al-Baihaqi (1304). Asal hadits ini ada pada riwayat al-Bukhari (3207) dan Muslim (164)]


Peristiwa di Sidratul Muntaha bagi Muhammad

1. Melihat bentuk asli Malaikat Jibril
 “ Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (An-Najm 53:13) ”
Asy-Syaibani berkata:
‘Aku menanyai Zirr bin Hubaisy tentang firman Allah Azza wa Jalla {maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (an-Najm, 53: 9)}. Dia menjawab: “Telah mengabariku Ibnu Mas’ud bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melihat (bentuk asli) Jibril. Ia memiliki enam ratus sayap.”‘
[Hadits riwayat Muslim (174), Kitab Iman, Bab tentang Penyebutan Sidratul Muntaha]

2. Melihat Tuhan
Dikatakan pula bahwa Muhammad telah melihat Allah yang berupa cahaya. Untuk hal ini terdapat beda pendapat di kalangan ulama, apakah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melihat Tuhannya? Jika pernah apakah beliau melihat-Nya dengan mata kepala atau mata hati?
Dari Abu Dzar, ia berkata:
‘Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Apakah paduka melihat Tuhan paduka?”. Ia menjawab: “Cahaya. Bagaimanakah aku melihat-Nya?”
[Hadits riwayat Muslim (178.1)], Kitab al-Iman, Bab Tentang Sabdanya “Bahwasanya aku melihat-Nya sebagai cahaya” dan Tentang Sabdanya “Aku telah melihat cahaya”.
Dari Abdullah bin Syaqiq, ia telah bersabda:
‘Aku bertanya kepada Abu Dzar: “Seandainya aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, pasti aku akan menanyainya.” Lantas dia berkata: “Tentang sesuatu apa?” Aku akan menanyainya: “Apakah baginda melihat Tuhan baginda?” Abu Dzar berkata: “Aku telah menanyainya, kemudian beliau jawab: ‘Aku telah melihat cahaya’.”  [Hadits riwayat Muslim (178.2)], Kitab al-Iman, Bab Tentang Sabdanya “Bahwasanya aku melihat-Nya sebagai cahaya” dan Tentang Sabdanya “Aku telah melihat cahaya”.

3. Mendapat Perintah Sholat 5 Waktu
Dari Ibnu Abbas, ia telah berkata: ‘Nabi kalian Shallallahu Alaihi wa Sallam diperintah lima puluh kali salat (sehari semalam), kemudian beliau meminta keringanan Tuhan kalian agar menjadikannya lima kali salat’
[Hadits riwayat Ibnu Majah (1400) dengan redaksi di atas, dan Ahmad (2884). Menurut al-Albani, hadits ini hasan lighairih]
Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud:
Dari Abdullah (bin Mas’ud), ia telah berkata: “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diisrakan, beliau berakhir di Sidratul Muntaha (yang bermula) di langit keenam. Ke sanalah berakhir apa-apa yang naik dari bumi, lalu diputuskan di sana. Dan ke sana berakhir apa-apa yang turun dari atasnya, lalu diputuskan di sana.”
Ia berkata: “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diberi tiga hal: Diberi salat lima waktu dan diberi penutup Surah al-Baqarah serta diampuni dosa-dosa besar bagi siapapun dari umatnya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.
[HR Muslim (173) dengan redaksi di atas, at-Tirmidzi (3276), an-Nasai (451), dan Ahmad (3656 & 4001)]

IV. Sesudah  Mi’raj
Rasulullah S. A. W. turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mi’raj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rajab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Wallahu’alam. (Sumber : Kitab Jam’ul-Fawaa`id)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar