Kamis, 08 Desember 2011

STUDY TOUR SD ISLAM AL-GHOZALI KELAS V bag.3 (Museum FATAHILLAH) )


Ini cerita perjalanan tour Jakarta yang ke-tiga, yaitu ke Museum Fatahillah.  Setelah melewati perjalanan yang panjang karena macet, akhirnya kami tiba juga di Museum Fatahillah ini.  Disini kami dipandu oleh seorang pemandu museum yang mengajak kami berkeliling sambil memberikan penerangan tentang hal-hal yang ada di museum.

Pertama kami diperlihatkan aneka peninggalan bersejarah berupa benda-benda yang dipajangkan.  Diantaranya ada prasasti ciaruteun, aneka perhiasan dan batu permata, lukisan dan perabotan khas Batavia (betawi) tempo seperti mebel antik dan koleksi buku-buku perpustakaan yang sudah ada sejak jaman dulu. Museum ini juga memiliki fasilitas perpustakaan yang menyimpan 1200 koleksi judul buku. Buku-buku tersebut sebagian besar merupakan peninggalan masa kolonial. Banyak di antaranya berbahasa Belanda, Melayu, Inggris, dan Arab. Salah satu yang tertua adalah Alkitab berangka tahun tahun 1702.
Museum Fatahillah dikenal juga sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Museum ini merupakan museum terbesar di Jakarta dengan area seluas 13, 388 meter persegi. Di Museum Sejarah Jakarta Anda bisa menelusuri jejak sejarah kota Jakarta yang menempati gedung bekas Stadhuis atau Balaikota.


Museum Fatahillah menempati dua gedung panjang di area Kota Tua Jakarta. Dahulu museum ini merupakan gedung balai kota (stadhuis) pertama di Batavia yang dibagun tahun 1707 oleh pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoon. Pembangunan gedung ini selesai tahun 1712 dan diresmikan dua tahun sebelumnya oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck. Setelah mengalami beberapa perubahan fungsi, gedung ini ditetapkan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974.
 
Prasasti ciaruten merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara dimana terdapat jejak telapak kaki Dewa Wisnu, Meriam si Jagur yang terkenal sebagai lambang kesuburan, Patung Dewa Hermes (Dalam mitologi Yunani merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang), Mimbar Masjid Kampung Baru, penjara bawah tanah dimana Untung Suropati (1670) dan Pangeran Diponegoro (1830) pernah ditahan. Ada juga air mancur di tengah Taman Fatahillah yang dahulu berjasa menjadi salah satu sumber air di kawasan Balaikota.

Kami juga diajak melihat penjara bawah tanah yang merupakan saksi bisu kisah perjuangan para pahlawan kita dalam memerangi penjajah Belanda.  Melihat suasana, aku menjadi sedikit takut dan ngeri membayangkan orang yangdipenjara disana.


Selesai melihat-lihat didalam museum, saatnya rehat.  Aku dan kawan-kawan mencoba berkeliling area luar museum dengan sepeda “ontel”, itu loh sepeda yang jaduul banget.  Tak lupa kami juga berbelanja souvenir khas kota Jakarta yang ada disana.
Pengalaman Tour Jakarta ini tak akan pernah kulupakan.  Suatu hari nanti, aku ingin jalan-jalan lagi melihat tempat-tempat bersejarah yang lain, terutama MONAS…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar